Jika ada fast moving stock, maka ada pula slow moving stock. Produk ini membutuhkan waktu lama untuk keluar dari rak penyimpanan di gudang. Contohnya adalah jaket tebal yang dijual di negara tropis seperti Indonesia. Tanpa strategi yang tepat, slow moving stock berisiko berubah menjadi deadstock.
Oleh karena itu, Anda perlu mengenali karakteristik slow moving inventory agar dapat mengatasinya dengan efektif. Lantas, apa saja ciri-cirinya? Kemudian, strategi apa yang bisa diterapkan untuk mengelolanya? Temukan jawabannya di sini.
Apa yang Dimaksud dengan Slow Moving?
Slow moving stock adalah barang dengan tingkat pergerakan atau penjualan yang rendah, sehingga cenderung tersimpan lama di gudang retailer. Salah satu penyebabnya adalah permintaan yang hanya meningkat pada waktu tertentu. Misalnya, perlengkapan sekolah lebih banyak dicari saat tahun ajaran baru. Akibatnya, perusahaan yang menjual slow moving stock sering menghadapi penumpukan barang, yang berujung pada meningkatnya biaya penyimpanan serta modal usaha yang tertahan di dalam stok.
Contoh Produk Slow Moving
Selain jaket winter, inilah beberapa produk yang dianggap slow moving inventory oleh sebagian besar pelaku usaha:
- Televisi model lama atau ponsel dengan spesifikasi yang sudah usang.
- Alat pemanggang roti atau blender dengan fitur terbatas yang tidak mengikuti tren terbaru.
- Mainan dengan karakter yang sudah tidak populer lagi atau mainan yang lebih cocok untuk usia tertentu.
- Skincare yang kandungannya tidak lagi sesuai dengan tren kecantikan saat ini.
- Sepatu lari model lama atau peralatan olahraga yang kurang cocok dengan perkembangan tren olahraga baru.
- Alat tulis dengan desain yang kurang menarik atau tidak mengikuti tren terkini dalam dunia kerja.
Faktor Penyebab Slow Moving Inventory
Terlepas dari jenis produknya, Anda juga perlu memperhatikan beberapa hal yang membuat sebuah barang berubah menjadi slow moving inventory, yaitu:
1. Perubahan Selera Konsumen
Selera dan preferensi pelanggan tidak pernah stagnan. Produk yang dulu banyak dicari bisa tiba-tiba kehilangan daya tariknya. Misal, gaya hidup sehat yang semakin populer bisa menggeser minat dari makanan instan ke produk organik. Alhasil, stok lama akan sulit terjual.
2. Siklus Hidup Produk yang Panjang
Barang yang sudah lama beredar di pasaran tanpa adanya pembaruan akan lebih mudah untuk ditinggalkan pelanggan. Konsumen cenderung mencari sesuatu yang lebih modern, baik dari segi fitur maupun desain.
3. Kesalahan dalam Memprediksi Permintaan
Memiliki optimisme dalam penjualan memang penting, namun perusahaan juga perlu melakukan prediksi permintaan dengan tepat. Jika tidak, bersiaplah dengan risiko overstock. Produk akan menumpuk di gudang dan bertransformasi menjadi slow moving stock.
4. Daya Beli Konsumen Menurun
Faktor lain yang mempengaruhi slow moving stock adalah penurunan kondisi ekonomi, terutama di kalangan target pasar bisnis Anda. Saat ekonomi sedang sulit, pelanggan cenderung lebih selektif dalam berbelanja. Mereka akan memprioritaskan kebutuhan pokok dan mengurangi pembelian barang sekunder atau tersier, yang membuat pergerakan produk tertentu menjadi lebih lambat.
5. Kualitas Produk Kurang Memuaskan
Apakah Anda merasa produk yang dijual memiliki kualitas yang kurang baik? Jika iya, maka Anda tidak disarankan untuk menyimpan stok dalam jumlah banyak. Pasalnya, barang dengan kualitas rendah sulit untuk bersaing di pasaran. Bila konsumen terlanjur kecewa, mereka cenderung enggan melakukan repeat order.
Dampak Slow Moving Stock Terhadap Bisnis
Majalah logistik asal Maryland, AS, Inbound Logistics, menjelaskan bahwa slow moving stock dapat berdampak signifikan pada operasional dan keuangan bisnis. Beberapa dampak tersebut antara lain:
1. Biaya Penyimpanan Meningkat
Semakin lama stok bertahan di gudang, maka akan semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan. Perusahaan perlu membayar sewa gudang, perawatan, asuransi, hingga biaya keamanan stok yang belum terjual.
2. Ruang Gudang Semakin Terbatas
Beberapa perusahaan mungkin memiliki gudang dengan kapasitas terbatas. Jika ruang gudang tersebut dipenuhi dengan slow moving stock, perusahaan Anda akan kesulitan untuk menyimpan barang lain yang lebih dibutuhkan oleh pasar. Bahkan dalam beberapa kasus, perusahaan terpaksa menyewa gudang tambahan, yang tentu akan menambah biaya operasional.
3. Persediaan Menumpuk
Stok yang tidak segera terjual akan terus bertambah dan menumpuk di gudang. Hal ini bisa menyulitkan pencatatan inventaris dan memperlambat proses distribusi. Jika dibiarkan, penumpukan ini dapat mengurangi fleksibilitas bisnis dalam mengelola stok dan merespons perubahan permintaan.
4. Arus Kas Terganggu
Dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain, seperti pengembangan produk atau ekspansi bisnis, akan tertahan dalam bentuk barang. Sehingga, modal yang terikat dalam inventaris akan menghambat jalannya arus kas.
5. Sulit Membuat Perencanaan Produksi
Wajar jika Anda merasa bingung menentukan jumlah produksi yang ideal saat stok lama masih menumpuk. Berubahnya tingkat permintaan akan membuat perusahaan Anda terjebak dilema; apakah harus memproduksi barang baru? Atau lebih baik menghabiskan stok lama terlebih dahulu?
6. Produk Berisiko Kedaluwarsa
Produk yang melewati masa pakai bisa kehilangan nilai jual atau bahkan harus dibuang. Hal ini kerap terjadi pada bisnis yang bergerak di sektor makanan, obat-obatan, juga kosmetik. Akibatnya, perusahaan akan mengalami kerugian.
7. Efisiensi Operasional Terhambat
Pisahkan slow moving inventory dari barang yang memiliki perputaran normal. Bila tidak, aktivitas tim gudang di perusahaan Anda berpotensi melambat. Proses pencarian, pengelolaan, dan pengiriman barang jadi lebih kompleks dan memakan waktu lama. Pada akhirnya, efisiensi kerja karyawan pun akan menurun.
8. Aktivitas Supply Chain Management Terganggu
Stok lama yang menumpuk akan mendorong perusahaan untuk menunda pembelian bahan baku atau produk baru. Hal ini dapat berdampak pada keberlangsungan rantai pasok, terutama jika supplier hanya mengandalkan pesanan rutin dari perusahaan Anda.
9. Ketidakseimbangan Antara Stok Dan Permintaan
Perusahaan perlu menyesuaikan jumlah stok dengan kebutuhan pasar. Stok lama yang masih mendominasi gudang dapat menghambat pergerakan produk baru, terutama saat tren dan permintaan pelanggan sudah berubah.
10. Stok Berisiko Dihapus
Stok yang terlalu lama tidak terjual cenderung mengalami penurunan nilai. Untuk menghindari kerugian lebih besar, perusahaan kerap menjualnya dengan harga diskon atau menghapusnya dari inventaris. Kondisi ini tidak hanya mengurangi potensi keuntungan, tetapi juga mencerminkan ketidakefisienan dalam manajemen persediaan.
Cara Mengidentifikasi Slow Moving Stock
Agar tidak semakin merugikan bisnis, slow moving stock sebaiknya diidentifikasi sejak dini. Menurut laman netsuite.com, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
1. Cek Apakah Terdapat Overstock
Untuk mengidentifikasi overstock, pantau lama penyimpanan barang di inventaris serta jumlah stok yang tersedia. Jika suatu produk terus menumpuk di gudang tanpa pergerakan, itu bisa menjadi tanda bahwa permintaannya menurun.
Selain itu, jika bisnis Anda memiliki kontrak pembelian dengan jumlah tetap, maka Anda perlu waspada terhadap peningkatan persediaan. Hindari kondisi di mana stok terus bertambah, tetapi penjualan melambat agar bisnis tetap efisien.
2. Analisis Inventory Turnover
3. Tinjau Frekuensi Pengiriman
4. Hitung Biaya Penyimpanan
5. Ukur Average to Sell Day Inventory
6. Periksa Laba Kotor
7. Lakukan Inventory Forecasting
8. Pantau Pola Data Penjualan
9. Lacak Usia Stok
10. Evaluasi Trend Musiman
11. Telaah Feedback Pelanggan
Strategi Mengatasi Slow Moving Stock
1. Lakukan Pemotongan Harga
2. Terapkan sistem manajemen inventaris
3. Hitung perputaran persediaan secara teratur
4. Menyempurnakan perkiraan permintaan
5. Meningkatkan manajemen biaya
6. Memantau tren harga pembelian unit
7. Atasi inventaris yang bergerak lambat dengan langkah-langkah strategis
8. Manfaatkan Saluran
9. Buat Donasi
10. TIngkatkan Daya Tarik Produk